Minggu, 7 juni 2009 saya membeli sebuah kamera pocket. Yap. Blumee adalah kamera pocket. Sebuah kamera Olympus tipe mju 550 wp berwarna biru. Yang kemudian saya beri nama “blumee” karena berwarna biru dan menyee. (jangan ditanya menyee itu apa).
Tujuan saya membeli kamera ini adalah untuk ber-hunting foto di Jogjakarta bersama teman-teman saya.
Kenapa pocket? Kenapa tidak slr? Alasan pertama adalah keterbatasan uang. Kedua, kepraktisan. Dan ketiga, fitur.
Melihat fisik nya di internet, tanpa ragu saya langsung jatuh hati.
Yap. Itu kata-kata saya pada cerita bagian satu. Sebagai seorang pecinta seni, sudah layaknya saya mencintai estetika. Blumee is cute. Dia mampu menarik perhatian hanya dengan sekali lirik. Kalau kata Thomas Djorghy, “mengandung umpan-umpan-umpan-umpan”.
Karakter yang dia miliki ternyata sanggup membuat saya jatuh cinta.
Blumee adalah tipe kamera yang mempunyai fitur water-proof hingga 3 meter. Itulah yang membuat saya semakin jatuh cinta. Selain cute, dia juga jago berenang. Haha.
Kenapa harus water-proof? Pertama karena saya ingin membuat foto dua alam, darat dan laut, dimana tidak ada satupun dari teman-teman saya berencana untuk membuatnya. Alasan kedua adalah karakteristik saya yang slebor. Saya suka menjatuhkan barang.
Lalu kenapa tidak shock-proof? Saya sudah mengantisipasinya dengan hardcase yang sanggup mengurangi efek getaran pada saat jatuh ke tanah. Namun, apabila jatuh ke laut? Atau selokan? Atau kubangan? Tidak ada yang bisa menduga.
Selain jago berenang, blumee juga mampu mengunci fokus. Itu sangat berguna jika ingin memotret ikan yang bergerak. Blumee juga mempunyai beberapa settingan yang memudahkan pengguna untuk mengambil gambar pada keadaan tertentu seperti underwater, night portrait, landscape, dan sebagainya.
Blumee bisa merekam video. Itu menggugah saya untuk membuat underwater video. Alhasil saya makin berhasrat untuk berkecimpung dalam dunia underwater.
Sisanya sama dengan kamera pocket biasa (tipe terbaru). Face detection, 3 x optical zoom, lcd 2.5”, intelligent auto, perfect fix. 10 megapixel? Saya belum butuh lebih.
Smart-buying.
Semenjak dimarahi teman saya karena terlalu boros, saya belajar menjadi seorang “smart-buyer”. Sebelum membeli blumee pun saya memikirkan dalam-dalam. Berkonsultasi dengan teman saya yang sudah ahli. Mencari referensi underwater photography. Dan membuat proposal untuk diajukan kepada orangtua saya, yang notabene mantan bankir dan penuh perhitungan.
Alasan-alasan diatas adalah hasil dari pembelajaran saya menjadi smart-buyer. Hufh. Semoga bissa diperhitungkan.